Ketika Media Sosial Menjadi Pedang yang Sangat Tajam

     SayaPostingan ini bisa dibaca di


     Saya adalah penulis baru di blog ini. Saya sebenarnya sudah lama dijadikan sebagai penulis di blog ini tapi karena kesibukan saya sangat padat jadi saya tidak sempat menulis di blog ini. Okay langsung menuju topik.


     Saya mendapat 'ilham' untuk menulis artikel ini setelah Selasa malam (15/3), grup Line kelas saya digemparkan dengan suatu kejadian di sebuah media sosial ternama yaitu Instagram.


     Seorang perempuan di kelasku (kita inisialkan sebagai T) meng-upload foto selfie bersama 2 temannya (yaitu N dan D) di media sosial berlambang lensa kamera itu. Namun, aksi upload fotonya itu berdampak fatal dimana ia memulai sebuah "civil war"/perang besar (okay ini agak lebay sih hehehehe) di antara kelasku dengan seorang remaja putri yang bernama Nurbaya (@nhoerbaya96) dimana Nurbaya adalah koordinator/manager dari sebuah boyband lokal yang dulu pernah berjaya di era 2011-2014 yang kini sudah bubar, Coboy Junior/CJR namanya dan antek-anteknya yang sebagian besar adalah "Comate" (Pendukung garis keras CJR).






     Ia melakukan sebuah kesalahan besar dimana ia men-tag salah satu akun palsu Nurbaya (@nhoerbaya96__) ini kedalam foto selfie-nya walaupun dia itu tidak membuat akun palsu Nurbaya. Kesalahan kecil memang, bahkan saya menganggap ini hanya masalah remeh yang tidak seharusnya dipanjangkan.


     Tetapi, si Nurbaya menganggap ini sebagai sinyal bahaya baginya, karena ia menganggap jika si T itu membuat akun palsu yang mengatasnamakan dirinya. Ia menganggap itu adalah "pertanda kebencian" dan pencemaran nama baik yang dilakukan seorang T terhadap dirinya. Dia pun bereaksi cepat, dia langsung mengupload foto selfie si T ke akun Instagramnya dan bertanya siapa gerangan orang yang berani membuat fake account atas nama dirinya.






     Si T mengadukan perihal masalah ini ke grup kelasku dan meminta pembelaan serta "advokasi", dan dimulailah "civil war" ini. Lantas, beberapa orang di kelas saya langsung membuka akun Instgram mereka, mencoba membela T dan "menyerang" Nurbaya melalui komentar. Nurbaya tak mau kalah. Ia dibantu oleh pasukan yang mencoba membela dirinya yang terdiri dari Comate. Si T juga mencoba untuk membela dirinya sendiri dan meminta maaf atas kejadian ini dan menyatakan jika ini hanyalah kesalahpahaman. Comate dari Samarinda juga ada yang membela si T dan ada yang malah memanaskan kasus ini seperti si T.


     Okay, kasus diatas jangan dipahami terlalu mendalam karena saya tidak begitu paham kasus ini eheheheh. Tetapi, dari kasus diatas saya mencoba membahas tentang "tajam"nya media sosial. Mungkin sudah banyak artikel di internet sono yang membahas tentang masalah ini tetapi saya mencoba membahasnya kembali dengan bahasa dan pendapat saya sendiri.


     Masih ingat pepatah "Mulutmu Harimaumu" dan "Lidah Tak Bertulang Tapi Bisa Lebih Tajam Daripada Pedang"? Ya begitulah jika anda menggunakan media sosial. Banyak orang yang mendadak menjadi artis di media sosial karena perkataan mereka yang sangat bijak dan memiliki pengaruh tersendiri bagi pembacanya.


     Tapi ada juga orang yang kemudian mendapat permasalahan dengan orang lain bahkan sampai tersandung kasus hukum hanya karena perkataan mereka di media sosial. Dengan kemudahan akses informasi dan komunikasi yang ditawarkan media sosial, media sosial bisa menjadi "senjata" yang sangat ampuh bagi pemakainya.


     Lantas apa hubungannya dengan kasus di atas? Kita bisa melihat bahwa si Nurbaya membuat pernyataan seenak udelnya jika si T membuat akun palsu atas namanya. Lantas yang terjadi selanjutnya adalah "konflik" antara si T dengan Nurbaya beserta pendukung dari masing-masing kubu.


     Sampai-sampai, salah satu teman di kelasku mengatakan di grup Line kelasku jika si Nurbaya ini "sok ngartis betul". Mentang-mentang sering dekat ama CJR (bukan berarti lacurnya yaaa) jadi kelakuannya kayak CJR yang memang sudah menjadi artis. Ada yang menyangkut dirinya aja langsung dibesar-besarkan. Hal ini menujukkan keampuhan media sosial bahkan sampai membuat konflik permusuhan diantara kedua insan ini walaupun kasus ini sendiri sudah selesai sih hehehehehe.


     Kasus ini hanyalah satu dari banyaknya kasus yang muncul karena penggunanya tidak bisa menjaga omongan dalam media sosial. Masih ingat kasus Antho Nugroho, seorang analis bank yang tinggal di Jambi, yang berani mengatakan di Instagram jika Dedi Corbuzier disebut kumpul kebo dengan Chika Jessica? Dedy Corbuzier pun geram bahkan sampai presenter di salah satu acara talkshow ini pun meminta tim IT nya untuk melacak keberadaan Antho Nugroho, kemudian langsung diterbangkan ke Jakarta untuk dipolisikan.


     Kasus ini juga termasuk satu dari banyaknya konflik yang terjadi di media sosial. Dimana konflik-konflik itu melibatkan pendukung sebuah idola dengan pendukung idola lainnya dimana ini biasa disebut dengan fanwar. Fanwar sering kita temukan di banyak media sosial. Bahkan dari fanwar-fanwar ini melahirkan rivalitas antara pendukung garis keras sebuah idola yang tak kalah hebat dengan rivalitas antara pendukung tokoh politik dan pendukung klub sepakbola sekalipun.


     Terus apa gunanya fanwar? Apa gunanya membela sebuah idola yang idola itu aja tidak tahu dan tidak peduli dengan apa yang kita bela terhadap mereka? Malah terkadang antara idola yang sering "dirivalkan" ini pun adem ayem dan akur-akur aja. Entahlah, tanya mereka jangan tanya saya hehehehehe.
Next
This is the current newest page
Previous
Next Post »
Thanks for your comment